Kamis, 23 Januari 2014

CANDI CETHO
Warisan leluhur di lereng barat gunung lawu























Kompleks bangunan Candi Cetho yang berlokasi di lereng barat Gunung Lawu, tepatnya di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Propinsi Jawa Tengah ini memiliki ukuran panjang 190 m dan lebar 30 m serta berada di ketinggian 1496 m dari permukaan laut.



 Candi Cetho berlatar belakang agama Hindu. Pola halamannya berteras dengan susunan 13 teras meninggi  kearah  puncak. Bentuk bangunan berteras seperti ini mirip dengan bentuk punden berundak masa Prasejarah.


Sengkalan memet (angka tahun yang digambarkan dengan bentuk binatang, tumbuhan dan sebagainya) berupa tiga ekor katak , mimi, ketam, seekor belut dan tiga ekor kadal. Menurut Bernet Kempers, arca ketam, belut, dan mimi merupakan sengkalan yang berbunyi welut (3) wiku (7) anahut (3) iku=mimi (1), sehingga ditemukan angka tahun 1373 saka atau 1451 M.





1.  
Arca – arca yang berwujud manusia yang belum dapat diindentifikasi satu persatu. Namun secara umun tidak menunjukkan ciri-ciri dewa-dewa tertentu. Barang kali arca-arca ini perwujudan tokoh wayang.









Arca phallus (kelamin laki-laki) yang bersentuhan dengan arca berbentuk vagina (alat kelamin wanita). Arca ini disatukan dengan bentuk garuda.



Arca garuda dan kura-kura diwujudkan dengan susunan batu di atas tanah membentuk kontur burung yang sedang membentangkan sayap


1.                 Fungsi candi cetho sebagai tempat ruwatan juga dapat dilihat melalui simbol-simbol  dan mitologi yang ditampilkan oleh arca-arcanya. Mitologi yang disampaikan berupa cerita Samudramanthana dan garudeya. Sedangkan simbol penggambaran phallus dan vagina dapat ditafsirkan sebagai lambang penciptaan atau dalam hal ini adalah kelahiran kembali setelah dibebaskan dari kutukan.










1.     Cerita Samudramanthana
                 samudramanthana ini menceritakan taruhan antara kedua istri kasyapa yaitu Kadru dan Winata pada pengadukan lautan susu untuk mencari air amarta atau  air kehidupan. Gunung Mandara dipakai sebagai pengaduknya. Dewa Wisnu berubah menjadi seekor kura-kura dan menopang Gunung Mandara. Kadru menebak bahwa ekor kuda pembawa air amarta yang akan keluar dari lautan susu berwarna hitam sedangkan Winata menebak ekor kuda itu berwarna putih. Ternyata kuda yang membawa air amarta berwarna putih, tetapi anak-anak Kadru yang berwujud ular menyemburkan bisanya sehingga warna ekornya berubah menjadi hitam. Walaupun bertindak curang Kadru menang dalam taruhan. Kemudian Winata dijadikan budak oleh Kadru.



2.     Ceita Garudeya
               cerita Garudeya mengisahkan tentang pembebasan Winata oleh anaknya, Garudeya. Ia menemui para ular meminta ibunya dibebaskan dari perbudakan Kadru. Mereka setuju asal Garudeya dapat memberi mereka air amerta sebagai tebusan. Garudeya pergi ketempat penyimpanan air amarta yang dijaga para dewa dan menyerahkan air tersebut kepada para ular setelah berhasil mendapatkanya. Akhirnya Winata berhasil dibebaskan dari perbudakan Kadru.


  Tahun pendirian dan fungsi candi
Prasasti dengan huruf jawa kuno pada dinding gapura teras ke VII berbunyi “Pelling padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku 1397” yang dapat ditafsirkan sebagai peringatan pendirian tempat peruwatan atau tempat untuk pembebasan dari kutukan dan didirikan tahun 1397 saka (1475 M)

3.      Riwayat penelitian dan pemugaran

a.     Candi Cetho pertama kali dikenal dari laporan penelitian Van Der Vilis pada tahun 1942 yang kemudian penelitian dan pendokumentasian dilanjutkan oleh W. F. Stuterheim, K. C. Crucq dan A. J. Bernet Kempers.
b.     Riboet Darmosoetopo dkk pada tahun 1976 melengkapi penelitian sebelumnya.
c.      Tahun 1975/1976 Sudjono Humardani melakukan pemugaran terhadap kompleks Candi Cetho dengan dasar  “perkiraan” bukan pada kondisi asli. Dengan kata lain pemugaran tersebut tidak mengikuti ketentuan pemugaran cagar budaya yang dianggap benar.
d.     1982, Dinas purbakala ( sekarang Balai Pelestarian Peninggalan purbakala) meneliti dalam rangka rekontruksi.