CANDI CETHO
Warisan leluhur di lereng barat gunung lawu
Kompleks bangunan Candi Cetho yang berlokasi di lereng barat Gunung Lawu, tepatnya di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Propinsi Jawa Tengah ini memiliki ukuran panjang 190 m dan lebar 30 m serta berada di ketinggian 1496 m dari permukaan laut.
Candi Cetho
berlatar belakang agama Hindu. Pola halamannya berteras dengan susunan 13 teras
meninggi kearah puncak. Bentuk bangunan berteras seperti ini
mirip dengan bentuk punden berundak
masa Prasejarah.
Sengkalan memet
(angka tahun yang digambarkan dengan bentuk binatang, tumbuhan dan sebagainya)
berupa tiga ekor katak , mimi, ketam, seekor belut dan tiga ekor kadal. Menurut
Bernet Kempers, arca ketam, belut, dan mimi merupakan sengkalan yang berbunyi welut (3) wiku (7) anahut (3) iku=mimi (1), sehingga ditemukan angka
tahun 1373 saka atau 1451 M.
1.
Arca – arca yang berwujud manusia yang belum
dapat diindentifikasi satu persatu. Namun secara umun tidak menunjukkan
ciri-ciri dewa-dewa tertentu. Barang kali arca-arca ini perwujudan tokoh wayang.
Arca phallus
(kelamin laki-laki) yang bersentuhan dengan arca berbentuk vagina (alat kelamin
wanita). Arca ini disatukan dengan bentuk garuda.
Arca garuda dan kura-kura diwujudkan dengan
susunan batu di atas tanah membentuk kontur burung yang sedang membentangkan
sayap
1. Fungsi candi
cetho sebagai tempat ruwatan juga dapat dilihat melalui simbol-simbol dan mitologi yang ditampilkan oleh
arca-arcanya. Mitologi yang disampaikan berupa cerita Samudramanthana dan
garudeya. Sedangkan simbol penggambaran phallus dan vagina dapat ditafsirkan
sebagai lambang penciptaan atau dalam hal ini adalah kelahiran kembali setelah
dibebaskan dari kutukan.
1.
Cerita
Samudramanthana
samudramanthana ini menceritakan taruhan antara kedua istri kasyapa yaitu Kadru
dan Winata pada pengadukan lautan susu untuk mencari air amarta atau air kehidupan. Gunung Mandara dipakai sebagai
pengaduknya. Dewa Wisnu berubah menjadi seekor kura-kura dan menopang Gunung Mandara.
Kadru menebak bahwa ekor kuda pembawa air amarta yang akan keluar dari lautan
susu berwarna hitam sedangkan Winata menebak ekor kuda itu berwarna putih.
Ternyata kuda yang membawa air amarta berwarna putih, tetapi anak-anak Kadru yang
berwujud ular menyemburkan bisanya sehingga warna ekornya berubah menjadi
hitam. Walaupun bertindak curang Kadru menang dalam taruhan. Kemudian Winata
dijadikan budak oleh Kadru.
2.
Ceita Garudeya
cerita Garudeya mengisahkan tentang pembebasan Winata oleh anaknya, Garudeya. Ia
menemui para ular meminta ibunya dibebaskan dari perbudakan Kadru. Mereka setuju
asal Garudeya dapat memberi mereka air amerta sebagai tebusan. Garudeya pergi
ketempat penyimpanan air amarta yang dijaga para dewa dan menyerahkan air
tersebut kepada para ular setelah berhasil mendapatkanya. Akhirnya Winata
berhasil dibebaskan dari perbudakan Kadru.
Tahun pendirian dan fungsi candi
Prasasti dengan huruf jawa kuno pada dinding gapura teras ke VII berbunyi “Pelling padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku 1397” yang dapat ditafsirkan sebagai peringatan pendirian tempat peruwatan atau tempat untuk pembebasan dari kutukan dan didirikan tahun 1397 saka (1475 M)
3.
Riwayat penelitian dan pemugaran
a.
Candi Cetho
pertama kali dikenal dari laporan penelitian Van Der Vilis pada tahun 1942 yang
kemudian penelitian dan pendokumentasian dilanjutkan oleh W. F. Stuterheim, K.
C. Crucq dan A. J. Bernet Kempers.
b.
Riboet
Darmosoetopo dkk pada tahun 1976 melengkapi penelitian sebelumnya.
c.
Tahun 1975/1976
Sudjono Humardani melakukan pemugaran terhadap kompleks Candi Cetho dengan
dasar “perkiraan” bukan pada kondisi
asli. Dengan kata lain pemugaran tersebut tidak mengikuti ketentuan pemugaran
cagar budaya yang dianggap benar.
d.
1982, Dinas
purbakala ( sekarang Balai Pelestarian Peninggalan purbakala) meneliti dalam
rangka rekontruksi.